culinaryspeaking


semua makanan di bawah ini saya rekomendasikan, karena sesuai dengan selera saya, enak menurut saya belum tentu enak menurut orang lain

  • nasi pedas Ibu Andika (jalan raya kuta, dekat hotel Ratna, bali)

“minta campuran khas nya terdiri dari abon ayam, kulit ayam garing yang rasanya manis pedes, mie goreng basa-basi (bener-bener cuman mie doang, kayak indomi gitu), ayam suir yang asin gurih. nah kalau minta tambahan lauk saya saranin minta daging sapi yang dibalut kelapa kering digoreng super krispi. rasanya kayak makan krupuk saking garingnya. enak banged beneran! cuman bayar 12rb (+telor bulet) tapi jangan lupa sambelnya yang pedes. maknyos cess pleng!

  • ayam taliwang restoran La Oma (jalan cijeruk, lembang, bandung)

“ayam taliwangnya sih enaknya standar, ayam bakar gurih gitu. tapi sambelnya boo, gelo abis, pedesnya poool banget nget. kayaknya ini sambel terpedes yang pernah saya coba di bandung. sambel nya ini ngga terlalu halus nguleknya, agak kasar gitu, kecium wangi daun kemanginya, sedep banget, pas dipaduin pake nasi panas dan ayam yang empuk. mungkinkah cabenya dikirim langsung dari lombok?kalao gitu harganya cukup reasonable 40rb/ekor”

  • singkong keju meletus (pusat;jalan kiara condong, bandung)

“saya sih ngga tau dimana itu kiara condong, tapi saya agak beruntung karena dateng ke festival jajanan bango di gasibu kemarin. nah, saya emang udah penasaran banget mau coba ini singkong dari jaman kapan. eh dia buka stand disana ternyata (God bless!!). saya beli sekotak kecil 7rb. aroma bawang putihnya terasa banget, kejunya sih ngga berasa malahan:D luarnya garing dalemnya empuk banget. saran saya sih, jangan makan panas-panas. mendingan anget-anget atau pas agak dingin. dijamin mau nambah lagi dan lagi”

  • cireng keraton (www.cirengkeraton.com)

“untung cireng ini udah buka cabang di ciwalk, jadi bisa saya jangkau dengan mudah. ini model cireng modern yang isinya ada pizza, keju, bbq, teriyaki, ayam,sapi,baso,sosis pedes. sebenernya rasanya udah agak mental dari cireng asli. karena dia pake campuran terigu dalam adonannya, jadi mirip roti yang agak kenyal. 2rb/buah. saya sih suka bbq, pizza ama teriyaki karena bumbunya cukup serius. oh ya, kalo yang di ciwalk mas-mas penjualnya ramah banget.hehe”

  • hongkong cheese cake (Lily patisserie, jalan tirtayasa atau di istana plaza depan hero, bandung)

“saya sih denger-denger dari orang katanya kue keju ini spesial. nah, karena penasaran saya coba beli deh, sekotak kecil 20rb. hmm, ini seperti bolu halus dengan rasa keju yang lebih nendang. buat orang seperti saya yang tak terlalu suka cheese cake yang cheesy banget (kaya punya breadtalk gitu), mungkin kue yang ini pas rasa kekejuannya. nikmat banget kalau dingin, jadi musti simpen di kulkas. kalau udah lama di suhu ruang, rasanya jadi biasa aja”

  • pisang goreng the stone (the stone cafe, dago pakar, bandung)

“jangan ketawa ya!the stone ini cafe kok saya malah rekomen pisang goreng :-) ) ini bukan pisgor biasa loh, disajikan di sebuah piring besar dengan isi 3 pisang kepok kuning(my fave) yang digoreng tepung plus saus yang saya ngga tau bahannya apa aja,hehe. saya agak menerka-nerka aja deh, wanginya campuran vanila, karamel dan madu. ditaburin keju cheddar parut diatasnya. menurut saya desert ini cukup spesial, 17rb++”

  • jagung bakar serut manis pedes (jalan dago, depan hotel holiday inn)

“ini dia, makan jagung bakar tapi ngga perlu gerogotin jagung dari bonggolnya karena bikin nyelip-nyelip di gigi (apalagi orang yang pake behel, saya ngalamin kok dulu, hehe). hmm saya kan cinta rasa manis nih, jadi saya rekomen jagung yang rasa manis pedes aja. bumbu jagungnya itu beda deh ama jagung yang di puncak. ini lebih resap dan berasa banget mirip bumbu bbq karena kepengaruh dari gosongnya jagung. oh ya sebenernya ada juga yang asin (pake keju). jujur saya ngga pernah nyoba karena saya pikir mungkin rasanya mirip cupcorn yang di mal-mal itu. harganya 5rb/cup plastik kotak atau per bonggol kalau ngga mau diserut. saran saya, belilah yang diserut karena isinya suka ditambahin kalo kurang penuh cupnya”

-jez-

sebenarnya ini cerita hari kamis kemarin , tetapi biar agak keren saya ngepost nya pas friday the 13rd. ngga penting ya :D

nokia 6680:KRIIIINGGGGGGKKK…..KRIIIINNNNNGGGGKK

aduh mak, udah jam setengah lapan?? ngga tau kenapa, saya kok belakangan ini suka bangun lebih siang dari biasanya. tapi ngga apa-apa lah toh hari ini saya kuliah jam setengah sbelas. I still have couple hours to get ready and do other things.. hmm how about cooking?? suddenly I think about cireng I ate 2 days ago in ciwalk.. cireng is aCIdigoRENG, a traditional snack originally from bandung made from tapioca, used to be filled with “pecel” peanut paste but now it starts innovating, because many cireng seller try combine it with teriyaki chicken, corned beef, sausages, bolognaise flavour, cheese, etc. I think it tastes better and makes it more expensive (ya eyalah)

okay, back to the topic, I still have couple table spoons of tapioca and a can of flour, so I can make cireng now.. asik! I have no peanut paste or beef or some other serious ingredients. let me think.. oh ya! I still have about a half cup of cheddar cheese so I will make my cireng filled with cheese. I bet you it tastes good and crazy, easy, speedy.

  1. mix tapioca and flour (ordinary one) with 3:1 comparisons
  2. add couple pinch of salt, white pepper, crushed garlic and shallot, little pinch of sugar, spring onion and chicken powder (optional)
  3. mix it with warm water till it doesn’t stick to your hand and you can make a good shape (don’t make it too thick or too big, cause it will take long time to cook)
  4. fry in warm coconut oil, keep the medium heat till crisp.( just cut it half to make sure it’s done^^)

breakfast is ready!!

I eat the cireng while it’s still hot not warm (yes, it’s kinda bad habbit)

it is crispy outside and gooey inside while you smell the aroma from the cheese and chicken powder.. one more, one more..

p.s: I will post the picture,soon!

-jez-

Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai menaruh perhatian (ber)lebih(an) terhadap makanan. Terlahir dari seorang ibu yang (menurut kami) amat pintar memasak, memungkinkan hal itu menular kepada saya, anak bungsunya.

Karena rasa cinta ini pula saya kurang setuju dengan ungkapan “makan untuk hidup”. Saya rasa filosofi sebuah makanan jauh lebih luas daripada sekadar penerus kehidupan kamu. Keindahan tampilan, inovasi, proses pembuatan, rasa dan variasi bahan yang digunakan adalah sebagian nilai plus dari sebuah hidangan.

Saya sama sekali BUKAN seorang juru masak yang handal. ( Ya iyalah, koki kok kuliah akuntansi). Saya lebih banyak memasak untuk diri sendiri dengan konsep “seadanya-semau saya”. Seadanya karena sebagai anak kost saya cukup tahu diri dalam berbelanja bahan masakan dan semau saya karena kalaupun tidak enak toh cuma saya ini yang makan, ngga ada beban kan.

Cooking is like love. It should be entered into with abandon or not at all. ~Harriet van Horne

-jez-