Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai menaruh perhatian (ber)lebih(an) terhadap makanan. Terlahir dari seorang ibu yang (menurut kami) amat pintar memasak, memungkinkan hal itu menular kepada saya, anak bungsunya.
Karena rasa cinta ini pula saya kurang setuju dengan ungkapan “makan untuk hidup”. Saya rasa filosofi sebuah makanan jauh lebih luas daripada sekadar penerus kehidupan kamu. Keindahan tampilan, inovasi, proses pembuatan, rasa dan variasi bahan yang digunakan adalah sebagian nilai plus dari sebuah hidangan.
Saya sama sekali BUKAN seorang juru masak yang handal. ( Ya iyalah, koki kok kuliah akuntansi). Saya lebih banyak memasak untuk diri sendiri dengan konsep “seadanya-semau saya”. Seadanya karena sebagai anak kost saya cukup tahu diri dalam berbelanja bahan masakan dan semau saya karena kalaupun tidak enak toh cuma saya ini yang makan, ngga ada beban kan.
Cooking is like love. It should be entered into with abandon or not at all. ~Harriet van Horne
-jez-